jump to navigation

Dulu Pion, Karena Cinta Jadi Ster May 15, 2012

Posted by DPRa PKS Pamulang Barat in Da'wah, Motivasi.
Tags: , , , , , ,
trackback
Dalam dunia catur, rakyat jelata atau wong cilik digambarkan sebagai pion. Namun, jika ia mau berjihad, dengan resiko yaqtuluuna auw yuqtaluuna(membunuh atau terbunuh), menghadapi dan berhadapan dengan siapapun yang dia temui, tanpa mempedulikan, apakah yang dihadapinya itu pion, kuda, atau menteri, maupun gajah, bahkan ster dan raja sekalipun. Dan ia terus berjihad dan berusaha untuk mencapai titik terjauh di daerah lawan. Bila semua itu ia lakukan maka pangkatnya akan naik, bisa jadi kuda, gajah, menteri ataupun ster. Hanya saja dalam dunia ster ada satu bentuk feodalisme dan kenakalan sistem yang tidak bisa didobrak, yaitu: pion tidak boleh menjadi raja, dan raja tidak boleh mati, kecuali setelah seluruh bala tentara dan pembantunya mati dan habis semua.

 

Bagaimana dengan dunia pergerakan Islam dan da’wah? Adakah “seorang pion” yang berubah menjadi ster? Kalau ada, siapakah dia?
Tersebutlah dalam kitab-kitab tarajim (buku-buku yang khusus membahas biografi), misalnya kitab al Ishobah fi tamyiizish-shohabah,  karya: Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, ada seorang sahabat yang dikenal dengan panggilan: Dzul Bijadaini.
Nama aslinya adalah Abdullah bin Abdi Nahm bin ‘Afif bin Suhaim bin ‘Adiy bin Tsa’labah bin Sa’ad Al Muzani, dari suku Muzainah. Dulunya bernama Abdul ‘Uzza. Oleh Rasulullah saw kemudian diganti dengan Abdullah.

 

Abdullah Dzul Bijadain adalah seorang anak yatim. Ia diasuh oleh pamannya. Sang paman ini sangat baik kepadanya. Segala kebutuhannya dipenuhi olehnya; sandang, pangan, papan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Namun, saat sang paman ini mendengar bahwa Abdullah telah masuk Islam, sang paman-pun marah. Ia hentikan segala kebaikan yang selama ini telah ia berikan kepada keponakannya. Bahkan, baju yang dipakai oleh Abdullah-pun harus dilepaskannya, sehingga ia telanjang. Oleh ibunya yang sangat miskin, ia diberi bijad, selembar kain yang sanghat tebal dan sangat kasar. Agar auratnya tertutup, bijad pemberian ibunya itu dia potong menjadi dua, yang satu dikenakannya sebagai baju, dan yang selembar lagi dia kenakan sebagai sarung.

 

Esok harinya, dia datang kepada Rasulullah saw. Melihat penampilannya yang seperti itu, Rasulullah saw bersabda: “Engkau adalah Abdullah Dzul Bijadain. Maka, teteplah berada di pintu rumahku”. Abdullah-pun konsisten dan komitmen untuk tetap berada pada pintu rumah Rasulullah saw. Dari sinilah ia terkenal dengan panggilan Dzul Bijadain.

 

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pada suatu malam, di tengah kegelapan dan tegangnya suasana perang Tabuk, saya melihat nyala api dari kejauhan. Saya datangi api itu. Ternyata di sana ada Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma. Dan ternyata Abdullah Dzul Bijadain telah meninggal dunia. Dan ternyata pula mereka telah menggali lubang untuknya. Saya lihat Rasulullah saw telah berada di dalam lubang. Sedangkan dua sahabat dekat beliau itu yang menurunkan mayat Abdullah ke dalam lubang. Rasulullah saw bersabda: “Turunkan ke sini mayat saudaramu itu”. Lalu Rasulullah saw menerima dan menangkap mayat Abdullah itu. Setelah meletakkan mayat Abdullah pada posisinya, Rasulullah saw bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya saya memasuki sore hariku dalam keadaan ridha kepadanya (Abdullah), karenanya, ridhailah dia”.

 

Mendengar do’a Rasulullah saw yang seperti itu, Abdullah bi Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: “Kalu saja sayalah mayit yang berada di dalam lubang itu”, angan-angannya. (Kisah aslinya bisa dilihat di kitab Al Ishobah Bab huruf ‘ain dan Al Bidayah wan Nihayah  pada pembahasan perang Tabuk.berkenaan dengan kisah dzul Bijadain, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah berkata:
“Dulunya Dzul Bijadain adalah seorang anak yatim. Ia ditanggung hidupnya oleh pamannya. Namun jiwanya terasa terus tersedot untuk mengikuti Rasulullah saw. Himmah-nya pun bangkit, namun, sisa penyakitnya menghambatnya untuk membangkitkan badannya, sehingga ia pun terduduk sambil menunggu pamannya.

 

Setelah kesehatannya sempurna, habislah kesabarannya. Nurani cintanyapun seakan berkata kepadanya: “Sampai kapan jiwa ini tertahan dan mengeluhkan adanya penyempitan, barangkali setelah itu ada jalan untuk memenuhinya”.
Maka ia pun berkata kepada pamannya: “Wahai pamanku, telah lama aku menunggu keislamanmu, namun, saya lihat engkau tidak segera bangkit untuk memeluk Islam”. Maka sang paman-pun berkata: “Sungguh, demi Allah, jika engkau memeluk Islam, maka segala yang pernah saya berikan akan saya cabut”.
Mendengar gertakan pamannya seperti itu, lisan kerinduannya-pun menjerit: “Sekali memandang Muhammad saw lebih aku cintai daripada dunia dengan segala isinya”.

 

Persis dengan kisah Qais yang sudah tergila-gila dengan Laila yang diungkapkan oleh si Qais majnun Laila sendiri: “Seandainya dikatakan kepada si gila: “Kamu pilih mana, dunia dengan segala isinya atau Laila dengan cintanya? Pastilah ia berkata: “Sebutir debu dari sandal Laila bagiku lebih lezat dan lebih memikat”.

 

Pada saat ia sudah bertekad bulat untuk berangkat menemui Rasulullah saw, pamannya-pun menelanjanginya, lalu ibunya yang fakir memberinya Bijad, lalu bijad itu dibelahnya menjadi dua, satu potong untuk baju satu potong sebagai sarung, demi melanjutkan perjalanan cinta untuk menemui sang kekasih (Rasulullah saw).
Saat ada panggilan jihad, ia cukup puas berada di barisan paling belakang para kekasih nabi itu, dan sebagai orang yanga sedang mencintai. Orang yang sedang merasakan cinta, jauhnya perjalanan tidaklah menjadi masalah dan pertimbangan, karena tujuan itulah yang menolong dan membantunya.

 

Saat meninggal dunia, Rasulullah saw-lah yang menggali lubangnya, beliau juga yang memasukkannya ke dalam liang kubur, sambil bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya saya memasuki sore hariku dalam keadaan ridha kepadanya (Abdullah), karenanya ridhoilah dia”.
Mendengar sabda Rasululloh saw seperti itu, Abdullah bin Mas’ud berkata:”Ooh, kalau saja sayalah mayit yang dikubur itu”.
Abdullah bin Mas’ud sebagai salah seorang sahabat yang terkemuka merasa kagum dan iri atas penghormatan yang diberikan Rasulullah saw kepada Abdullah Dzul Bijadain. Rasulullah saw menguburkan dengan tangannya sendiri dan mendo’akan agar sang mayit diridhoi oleh Allah swt, padahal do’a Rasulullah saw adalah maqbul.

 

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah berkata: “Wahai pemilik ‘azam (tekad) yang banci, ketahuilah, yang paling kecil dalam catur adalah pion, namun, saat ia bangkit, iapun menjadi ster”. (Al Fawaid, hal:69-70)

 

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini, tidak disebutkan satu persatu, akan tetapi renungkanlah, hayatilah dan cobalah pahami apa yang tersurat dan yang tersirat dari kisah ini, lalu cobalah laksanakan sampai batas akhir kemampuan kita.

 

Semoga Allah swt memberikan taufiq, hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita, untuk menggapai ridho-Nya, aamiiin.
Sumber: “Membangun Ruh Baru”, Ust. Musyaffa, Lc

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a comment