jump to navigation

Menghilangkan Trauma Persepsi (bagian 8 – Terakhir) March 22, 2012

Posted by DPRa PKS Pamulang Barat in Da'wah, Pemikiran.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah,

Mohon maaf bila panjang, karena berkumpulnya para pimpinan gerakan islam di Indonesia seperti ini sangat jarang. Kesempatan seperti ini harus kita ambil hikmah dan manfaatnya. Insya Allah dengan memenuhi peran kader kepemimpinan tadi, kita akan mampu menggerakkan jama’ah ini di semua level strukturnya, akan mampu menggerakkan umat ini, dan bahkan menggerakkan bangsa ini untuk mencapai kebijakan bagi dirinya dan kebijakan untuk kemanusiaan pada umumnya.

Menggerakkan potensi jama’ah dakwah kita, potensi ummat, potensi bangsa, potensi manusia, bagi jama’ah dakwah bukan hanya bi ishdaaril awamir (mengeluarkan perintah-perintah) tapi bi i’dadil awamil (menyediakan sarana prasarana). Harakah dakwah mustamirah tidak mengandalkan ishdarul awamir, tetapi mengandalkan i’dadul awamil al harakiyah. Menggerakkan kader bi i’dadil awamil bukan bi ishdaril awamir.

Jadi tugas kepemimpinan itu bukan memberikan perintah demi perintah. “Ini perintah laksanakan! Tidak ada diskusi, ini instruksi ayo jalan! Kalau tidak jalan ada ‘iqab.” Ini melemahkan kader. Jadinya ada yang berkomentar, “Yah, begini berjama’ah ternyata, dibentak-bentak melulu. Padahal ayah ibu saya tidak pernah marah seperti itu. Padahal ia bukan siapa-siapa, tidak ada jasa apa-apa, marah-marah dan menyuruh-nyuruh.”

Faktor Penggerak Dakwah

Jadi, dalam menggerakkan kader dakwah harus lebih mendahulukan ‘idad ‘awamil al harakiyah. Faktor – faktor yang menggerakkan dakwah itu:

Pertama, awamil ruhiyah wal maknawiyah, mempersiapkan faktor mental dan spiritual. Kebangkitan semangat, kebangkitan harga diri, kebangkitan optimisme.

Kedua, awamil fikriyah, mempersiapkan faktor idealita dan cita-cita. Cita-cita Islam ini sangat besar, shina’atul hadharah (mencipta peradaban), ustadziyatul ‘alam. Kita harus siapkan idealita untuk mencapai cita-cita besar itu. Kita hidupkan, kita gelorakan idealita itu. Sudah tentu dengan mengembangkan penguasaan nazhariyat, konsepsi – konsepsi di segala bidang. Sehingga kita mempunyai para pakar ekonomi, budaya, ketatanegaraan, lingkungan hidup, tata kota, arsitektur dan lainnya.

Munas telah menggariskan agar sampai 2009 kita dapat merekrut 1000 tokoh profesional karena kita membutuhkan qaidah al-fikriyah sebagai salah satu usaha i’dadul awamil fikriyah. Sebab idealita tidak mungkin dibangun tanpa kekuatan intelektualitas, tanpa kecerdasan, tanpa fathanah, tanpa dzaka’, agar ide kita terdepan di segala sektor. Kita harus terus mendorong awamil fikriyah sehingga ar-ru-yah al-mustaqbaliyah, visi ke depan kader – kader kita menonjol luar biasa. Memahami risalah masiriyah, memahami misi perjuangan gerakan dakwah ini. Juga memahami dan membiasakan ijabiyatu ru-yah, pandangan positif.

Ketiga, awamil idariyah, faktor – faktor manajerial. Jangan sampai berjuang, berjihad, berdakwah tanpa manajemen, cukup hanya dengan tawakal ‘alallah. Ali ra dalam kata – kata mutiaranya mengatakan bahwa al haqqu bila nizham yaghlibul bathilu binizham. Salah satu syarat untuk intizham (keteraturan) adalah adanya langkah – langkah yang ter-manage dengan baik. Manajemen yang terkait dengan menghimpun potensi (idarah tasyji’iyah), manajemen koordinasi (idarah tansiqiyah), manajemen mobilisasi potensi (idarah ta’bawiyah), manajemen pengawasan (idarah riqabiyah) dan juga manajemen reward (idaraha jaza-iyah).

Alhamdulillah dalam milad yang lalu, ikhwah yang berjasa membuat lambang sudah diberikan syukrun, karena man lam yasykurinnas lam yasykurillah. Begitu juga yang berjasa membuat hymne atau mars diberi penghargaan. Idarah jaza-iyah seperti ini perlu diberikan karena setiap orang menghendaki pengakuan. I’tiraf ‘indal injaz. Pengakuan atas eksistensi dirinya, pengakuan atas potensi dirinya dan pengakuan atas keberhasilannya. Dan itu terkait dengan istimrariyatul harakah secara langsung.

Kalau kita tidak bisa memberikan barang – barang berharga, bisa dengan sponsoring up (dipromosikan). Misalnya bila bertemu dengan pejabat atau tokoh, katakan: silahkan berkonsultasi dengan si fulan dari PKS. Atau teruskan perundingan dengan si fulan kader PKS.

Keempat, awamil madiyah, sarana finansial atau materi. Dalam Fatawa Ibnu Taimiyah dikatakan tidak ada baiknya orang yang tidak suka harta. “Laa khaira fii man laa yuhibbul maala, ya’ budu bihi rabbahu wa yuaddi bihii amaanatahuu wa yashuunu bihi nafsahu ‘anil khalqi wa yastaghni bihi.” Tidak ada kebaikan pada diri orang yang tidak suka kepada harga, yang dengannya ia menyembah Tuhannya, menjalankan amanahnya, menjaga kehormatan dirinya dari (meminta-minta) kepada orang lain, dan mencukupkan untuk (kebutuhan) dirinya.

Yang dilarang oleh Al Qur’an adalah hubban jamman. Cinta yang sangat berlebih-lebihan kepada harta. Itu yang tidak boleh. Tapi, kata Ibnu Taimiyah, tidak ada kebaikan orang yang tidak suka harga, yangg dengan itu beribadah kepada Rabbnya, menunaikan tugas amanahnya, memelihara dirinya dan menjaga dirinya dari ketergantungan kepada orang lain. (Fatawa Ibnu Taimiyah juz 7).

Kelima, awamil zharfiyah, faktor kondisi dan situasi. Situasi dan kondisi itu bisa dipersiapkan dan dikelola, bisa di-manage, bisa direkayasa. Tahyi-atu zhuruf, mempersiapkan situasi dan kondisi, baik zamaniyah, kondisi waktu, maupun makaniyah, kondisi tempat.

Ruang dan waktu diisi oleh manusia. Karena itu untuk mempersiapkan situasi dan kondisi kita harus pandai berkomunikasi dengan orang lain. Harus bisa ber-tawasul bersilaturahim dengan orang. Kemudian berta’amul, bekerjasama, dan bertafa’ul. Kalau yang dihadapi petani kaifa yatakayaf ma’al muzari’in. Kalau yang dihadapi kaum buruh, kaifa yatakayyaf ma’al ‘umal. Kemampuan tawasul, ta’amul dan tafa’ul harus dimiliki oleh setiap kader ikhwan dan akhwat agar bisa tahiy-atu zhuruf, mempersiapkan situasi dan kondisi yang kondusif bagi meraih kemenangan – kemenangan dakwah yang dijanjikan oleh Allah swt.

Sekian kalimat dari saya.

Wa astaghfirullah li wa lakum,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh……

Sumber: Buku Menghilangkan Trauma Persepsi, 2007, KH. Hilmi Aminuddin (Ketua Majelis Syuro PKS)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: