jump to navigation

Menghilangkan Trauma Persepsi (bagian 3) March 13, 2012

Posted by DPRa PKS Pamulang Barat in Da'wah, Pemikiran, Politik, Uncategorized.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Tathahhur atau membersihkan diri, dalam tanmiyah an-nukhbah qiyadiyah adalah harus selalu membersihkan diri (takhalus) dari trauma persepsi ini. Ada tujuh trauma persepsi yang kita harus membersihkan diri darinya.

1. Pertama, Al-‘Uqdah Al-Inhizamiyah, yaitu trauma persepsi selalu kalah kalau bertarung.

Kader kita insya Allah adalah yang paling minim mengalami trauma ini. Bahkan mudah-mudahan tidak ada trauma persepsi itu. Itu bukan saja dibuktikan dalam pemilu 2004, tapi juga dalam Pilkada. Dari 138 pilkada, kita memenangkan 81 pilkada. Berarti kader-kader kita sebetulnya sudah sadar dan bersih dari trauma persepsi ini. Sadar akan potensi diri, sadar akan misi diri, sadar akan tugas diri, dan bahwa kemenangan pada hakikatnya adalah milik Allah, dan Allah akan memberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Waman-nashru illa min ‘indillahih ‘azizil hakim. Dari 138 pilkada, dengan segala kekuarangan, dengan segala kesalahan dan bahkan dengan segala keluguan, kita menang. Insya Allah kader kita sudah mampu membebaskan diri dari al-‘uqdah al-inhizamiyah. Sampai yang secara hitungan suara kalah, secara hitungan politik dan dakwah kita menang. Dan hal ini diakui oleh semua orang. Misalnya di pilkada DKI Jakarta mass media menulis: Foke Unggul, PKS Menang.

Jadi semangatnya harus semangat tahqiqul intisyaraat, merealisir kemenangan-kemenangan yang dijanjikan Allah swt. Kalau kebetulan ada kekalahan, itu adalah kemenangan yang ditangguhkan.

Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah

Jadi al-‘uqdah al-inhizamiyah harus dicuci bersih dari kita, tidak boleh ada. Memang kita mulai dari tidak punya apa-apa, tidak punya pengalaman, tidak punya tokoh. Waktu buat partai, kader kita 3000. Saya merasa waktu itu jumlah yang sedikit untuk mendirikan partai. Ternyata itu kebanyakan untuk mendirikan awal. Dan, ternyata kemudian kader kita ada yang jadi DPR, Ketua MPR, Bupati, Walikota, Wakil Gubernur.

2. Kedua, al-‘uqdah al-istihdafiyah, trauma persepsi yang merasa kita ini jadi objek terus.

Merasa dikepung terus. Bertemu orang deg-degan. Bertemu hansip kaget. Melewati kantor Koramil merinding. Kalau sekarang jangan begitu. Berkali-kali saya mengatakan kepada ketua-ketua DPW, bahwa antum ini setara dan sejajar dengan Gubernur, Pangdam, bahkan Insya Allah lebih bitaqwakum (dengan taqwa antum). Kepada ketua-ketua DPD saya katakan, antum ini sejajar dengan Bupati, Kapolres, Walikota, Dandim, Ketua Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Negeri, bahkan insya Allah lebih bitaqwakum. Begitu juga kepada ketua DPC, DPRa.

Jadi dengan al-‘uqdah al-istihdafiyah, artinya kita merasa jadi sasaran terus, dikepung, bila orang datang merasa akan mengerjain. Akhirnya tidak bisa ofensif dan kerjanya hanya defensih. Senjata kita cuma perisai, tidak bisa menyerang, membuat orang lain menembaki kita terus – menerus. Padahal, ibaratnya, bisa jadi kita tidak perlu perisai itu, kita lempar kepada mereka. Nastahdifuhum wala yastahdifuunana. Kita harus tathahhur membersihkan diri dari al-‘uqdah al-istihdafiyah.

3. Ketiga, al-‘uqdah al-muamaratiyah, mentalitas merasa orang-orang lain sedang bersekongkol melawan kita.

“Wah mereka sedang berkumpul nanti bersekongkol, bagaimana nih.” Padahal belum tentu. Al Qur’an menyatakan: tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta. Mengapa kita menganggap mereka bersatu bersekongkol menghadapi kita? Perasaan dikepung, perasaan mereka bersekongkol, merasa ada konspirasi, apakah lokal, apakah nasional, apakah global, secara berlebihan. Akhirnya tidak mau mengembangkan pola komunikasi. Awas jangan ngobrol dengan dia, nanti terbawa, nanti hanyut. Awas kita dijegal secara politik. Kalau kader ditarbiyah bertahun-tahun gampang hanyut itu bukan kader, tapi itu orang keder. Kita harus berani menghadapi tantangan – tantangan semuanya.

Perasaan dikepung dan ada konspirasi, kalau sudah menjadi ‘uqdah membuat kita tidak akan mampu menghadapi konspirasi meski kecil. Karena yang membesarkan dan memberikan pengaruh kepada konspirasi itu kita sendiri.

4. Keempat, al-‘uqdah arraj’iyyah, trauma bahwa kita ini terbelakang.

Merasa bahwa kita ini anak-anak baru tumbuh, sebagian sekolah belum tamat, belum punya rumah, belum punya pekerjaan. Tertinggal ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Merasa berada di barisan belakang, nafsiyah raj’iyah, nafsiyah takhaluf. Padahal Allah swt dan Rasulullah saw menghendaki kita untuk wasari’u, fastabiqul khairat. Ber-musara’ah dalam meraih kebajikan. Semangat berlomba, semangat kompetisi, semangat berpacu untuk selalu ada di barisan terdepan. Berani tampil kedepan. Karena terbukti, ketika ikhwan dan akhwat berani tampil ke depan, diakui oleh semua orang. Mobilitas ikhwan dan akhwat banyak diakui. Kita diakui sebagai partner pemerintahan, bahkan partnership dengan lembaga – lembaga internasional.

Kalau semangatnya raj’iyah, ketertinggalan, keterbelakangan, terseok-seok, ketinggalan di ujung barisan, sudah barang tentu, na’udzubillah, kita bukan hanya ditinggal oleh ummat tapi juga oleh Allah swt. Sebab Allah menghendaki ber-tanafus, ber-musara’ah dan ber-musabaqah.

(bersambung).

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: