jump to navigation

Da’i dan Ma’isyah (bagian 5 – terakhir) March 15, 2010

Posted by DPRa PKS Pamulang Barat in Da'wah, Ekonomi.
Tags: , , , ,
trackback

Oleh Zainal Abidin

Menemukan Peluang Ma’isyah dari Pribadi Sang Da’i

Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang telah menyediakan peluang mencari nafkah di alam semesta ini.

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah – buahan menjadi rizki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar dilautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai – sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala yang kamu mohonkan kepada-Nya, dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS Ibrahim: 32 – 34).

Peluang ini pun terbentang luas di bumi Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Terdapat hasil bumi, baik berupa buah – buahan, hewan ternak dan hasil tambang; terdapat pula hasil laut, baik tumbuhan laut, ikan dan segala jenisnya; dan terdapat pula sumber daya manusia yang memerlukan pelatihan dan bimbingan serta pelayanan dalam memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Semua peluang tersebut dapat kita raih menjadi sumber maisyah, bila kita mampu mengeksplorasi segala potensi diri yang kita miliki, kemudian mempertemukannya dalam sebuah usaha mencari maisyah. Dalam diri kita terdapat banyak potensi, yang tidak bisa kita temukan sekaligus, tapi kita dapat menemukannya setiap kali kita mencoba untuk menggalinya. Sehingga da’i yang tadinya hanya bisa ceramah, kalau dia mencoba untuk berdagang maka secara perlahan ia pasti akan mampu; dan jika dia mencoba untuk bertani, berternak, menjadi tukang pandai besi, atau pandai emas dan seterusnya, pasti secara perlahan mampu melakukan semua itu.

Tapi memang agar kita sukses dalam hal maisyah, kita perlu menentukan fokus pada satu potensi menonjol yang kita miiki untuk dijadikan sebagai profesi, dan kemudian menjadi ulung dalam bidang tersebut. Walau pun begitu tidak masalah kita memiliki banyak potensi, bahkan kita harus senantiasa menggalinya, namun hendaknya semua itu dilakukan secara terencana.

Ada pelajaran yang baik dari orang – orang Cina dalam meniti karirnya sebagai pedagang, yaitu mereka, sebelum menjadi pedagang kelas atas, terlebih dahulu telah berhasil menjadi pedagang kelas menengah; demikian pula mereka tidak akan melangkah menjadi pedagang menengah sebelum berhasil menjadi pedagang kecil. Seringkali kita ingin langsung menjadi besar, karena melihat orang – orang sukses, tanpa pernah mau mempelajari proses mereka meraih kesuksesan. Disinilah sumber masalahnya.

Pada akhirnya, tulisan singkat ini dapat menggugah tumbuhnya kesadaran dan wawasan bahwa kapan pun dan dimana pun kita dapat mencari nafkah. Allah SWT memberi kesempatan kita untuk mengatur antara kegiatan da’wah dan maisyah, tanpa harus ada yang terabaikan, yang pada gilirannya maisyah atau nafkah yang kita peroleh dapat membiayai program – program da’wah kita, sehingga kita tidak akan pernah lagi mengatakan, “Afwan akhi, ini masalah klasik.”

Wallahu a’lam.

Sumber: Buku “Tarbiyah Menjawab Tantangan”, Dept Kaderisasi DPP PK

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: