jump to navigation

Da’i dan Ma’isyah (bagian 3) March 9, 2010

Posted by DPRa PKS Pamulang Barat in Da'wah.
Tags: , , , ,
trackback

Oleh Zainal Abidin

Kendala Da’i dalam Mencari Nafkah

Sang da’i menghadapi beberapa kendala dalam mencari nafkah, yaitu berupa kesalahan paradigma, ketiadaan skill, performance (penampilan) dan kesempatan. Adapun kendala berupa kesalahan paradigma adalah pertama, ketika sang da’i dan masyarakat memahami da’wah dengan pemahaman yang sempit, ibarat “dunia tak selebar daun kelor”, maka “da’wahpun tak sebesar mimbar.”

Mereka mempersepsikan da’wah itu hanya di mimbar, da’wah itu tidak lebih dari ceramah, da’wah itu sebatas nasehat. Pemahaman seperti ini mengantar kita pada kesalahan paradigma yang kedua, ketika sang da’i dan masyarakat memahami da’wah adalah pekerjaan orang – orang tertentu saja, bukan tugas bersama seluruh kaum muslimin, melainkan hanya tugas guru agama, imam, khatib, ustadz dan ulama’. Sehingga lahir kesalahan paradigma yang ketiga, ketika sang da’i dan masyarakt memahami bahwa yang bekerja di bidang da’wah adalah orang – orang suci, mereka titisan malaikat, tidak memerlukan dunia, semua perbuatan dan ucapannya benar, yang kebenarannya sama dengan wahyu.

Ketiga paradigma diatas mengakibatkan rusaknya ‘keseimbangan’ kehidupan, khususnya umat Islam dan umat manusia umumnya. Yang pertama membatasi ‘volume’ da’wah. Padahal sebesar apa pun volume Islam, sebesar itu pula volume da’wah. Islam mencakup seluruh dimensi ruang, masa dan aktifitas manusia, maka demikian pula da’wah mencakup aspek bekerja mencari nafkah. Sedang yang kedua membatasi kepemilikan da’wah Islam pada orang tertentu saja yang paling fatal, bila sampai pada tingkat pengkultusan. Padahal da’wah Islam amanah bagi setiap muslim, apapun suku, bahasa, bangsa, warna kulit, dan profesinya dalam mencari nafkah. Dan yang ketiga membatasi wilayah kerja sang da’i pada pekerjaan tertentu, seperti ceramah, khutbah, mengajar dan semacamnya serta seolah – olah da’i tidak cocok menjadi pejabat, politisi, pengusaha, tentara dan lain – lainnya, yang pada gilirannya membuat para da’i berada di atas menara gading. Padahal sejarah telah membuktikan bagaimana Rasulullah saw sang da’i pertama menggembala kambing, berdagang di pasar, memimpin peperangan, memimpin diplomasi, khutbah di mesjid, mengajar umat dan semacamnya. Hal apa yang dijalani oleh teladan umat ini, tidak terbatas hanya pada dirinya, tapi diikuti pula oleh semua sahabatnya dan umat Islam pada generasi – generasi berikutnya.

Seyogyanya, demikian pulalah kita memahami dan bertindak, sehingga kita tidak akan pernah merasa sempit dalam mengamalkan Islam, medan da’wah di hadapan kita sangat luas, dan lapangan profesi yang bisa menghasilkan nafkah buat kita juga sangat banyak. Tinggal bagaimana kita mensikapi ‘keluasan’ ini, dengan meningkatkan skill (keahilan) yang diperlukan, sekaligus memperhatikan performance (penampilan) kita pada setiap profesi.

Hal yang mungkin menjadi kendala berikutnya, adalah kesempatan kerja. Saya mengatakan, setelah paradigma kita luruskan, skill dan performance kita miliki, maka kesempatan i ni datang dengan sendirinya, karena kita bisa menciptakannya sendiri dengan kecerdasan kita.

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, pasti Allah memberinya jalan keluar dan memberinya rizki yang tidak disangka – sangka dari mana sumber.” (QS At Thalaq: 2-3).

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti Allah memudahkan segala urusannya.” (QS At Thalaq: 4).

(bersambung)

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: