jump to navigation

Da’i dan Ma’isyah (bagian 2) March 8, 2010

Posted by DPRa PKS Pamulang Barat in Da'wah.
Tags: , , , , ,
trackback

Oleh Zainal Abidin

Urgensi Bekerja Mencari Nafkah dalam Islam

Banyak sekali ayat Al Qur’an dan hadits Nabi yang menjelaskan pentingnya mencari nafkah, diantaranya:

“Jika  shalat telah ditunaikan, bertebaranlah kalian di permukaan bumi dan carilah sebagian dari karunia Allah.” (QS Al Jumu’ah: 10).

“…Dan mereka yang berjalan di atas permukaan bumi mencari sebagian dari karunia Allah, serta mereka yang berperang di jalan Allah. Bacalah apa yang mudah bagi kalian dari Al Qur’an…” (QS Al Muzzammil: 20).

“Seorang mencari kayu bakar, kemudian memikulnya dan menjualnya, adalah lebih baik dari seorang yang mengemis, yang mungkin ia diberi atau ditolak.” (HR Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Hurairah ra).

“Adalah Nabi Daud as tidak makan kecuali hasil kerja tangannya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah ra).

“Adalah Nabi Zakariya ‘as seorang takung kayu.” (HR Muslim dari Abu Hurairah ra).

Dari beberapa ayat dan hadits diatas, dapat kita simpulkan betapa pentingnya mencari nafkah, bahwa Pertama, mencari nafkah itu kedudukannya sama dengan shalat. Dia Allah ‘mengikat’ pekerjaan shalat yang ibadah mahdhah, dengan pekerjaan mencari karunia yang ibadah ghairu mahdhah dengan huruf (fa) yang berarti segera, atau tidak boleh ada jeda waktu yang memisahkan antara keduanya.

Kedua, mencari nafkah itu perintah Allah swt yang hukumnya wajib. Allah menggunakan kata perintah pada ayat itu (fantasyiruu) dan (wabtaghuu), dan kata perintah adalah hukumnya wajib selama tidak ada dalil lain yang membantah kewajibannya, sehingga hukumnya berubah menjadi sunnah atau mubah. Bahkan Rasulullah saw menguatkan dengan sabdanya:
“Bekerja mencari yang halal itu suatu kewajiban sesuah kewajiban beribadah.”
(HR Thabrani dan Baihaqi).

Ketiga, mencari nafkah kedudukannya sama dengan jihad berperang di jalan Allah. Di ayat berikutnya Allah juga memerintahkan membaca Al Qur’an yang mudah bagi mereka yang sedang berjalan mencari karunia Allah atau berperang di jalan-Nya. Orang yang berperang di jalan Allah adalah orang yang bertugas menjaga keamanan kaum muslimin dari serangan musuh. Sementara orang yang berjalan mencari karunia Allah adalah orang yang bertugas mensejahterakan kaum muslimin dari segala bentuk kemiskinan. Keamanan dan kesejahteraan adalah kebutuhan dasar yang saling tergantung bak dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, untuk terselenggaranya pembangunan peradaban umat manusia, yang sesuai kehendak Allah swt. (QS Al Quraisy).

Dalam prakteknya, Utsman bin ‘Affan ra, pernah menginfakkan semua barang dagangannya, yang baru saja tiba dari negeri Syam, di saat Rasulullah saw sedang mempersiapkan pasukannya menuju Tabuk. Tetapi, walaupun Utsman bin ‘Affan ra selalu hadir di setiap peperangan, ia tidak pernah tampil sebagai panglima. Sebaliknya, Khalid bin Walid ra, seorang panglima perang, yang bergelar saifullah al maslul (pedang Allah yang terhunus) yang selalu menjadi pemenang di setiap peperangan yang dipimpinnya, tidak pernah tercatat oleh sejarah sebagai pedagang ulung. Padahal ia juga berdagang, karena perdagangan adalah profesi utama orang – orang Quraisy.

Keempat, mencari nafkah itu terhormat dan merupakan pekerjaan pada Nabi Allah. Ia membangun izzah karena  tidak mengemis, dan besar kemungkinan ia dapat memberi dan membantu orang lain, walaupun ia seorang pandai besi seperti Nabi Daud atau tukang kayu seperti Nabi Zakariya, maka benarlah sabda Nabi Muhammad saw:
“Hai anak Adam! Sesungguhnya jika kamu memberi dari kelebihan hartamu adalah baik bagimu, dan buruk bagimu jika kamu menahannya, engkau tidak akan dicela selama kamu tidak meminta – minta, mulailah bersedekah kepada keluargamu, dan tangan diatas itu lebih baik dari pada tangan yang dibawah.” (HR Muslim dari Abu Umamah bin ‘Ijlan ra).

Kelima, jangan ‘pilih – pilih’ pekerajaan dalam mencari nafkah! Semua pekerjaan adalah baik, selama pekerjaan itu halal. Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad saw, tidak pernah merasa terhina menjadi gembala kambing, demikian pula Nabi Daud dan Nabi Zakariya yang telah disebut diatas. Berdagang sayur di pasar, menarik ojek, menjadi pedagang dorongan, menjadi cleaning service, dan segala macam pekerjaan, yang dimata masyarakat — mungkin — hina, adalah jauh lebih baik daripada menganggur hidup di bawah tanggungan orang lain atau menjadi pengemis.

(bersambung)

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: